Malam itu, hujan turun perlahan. Raka berdiri di dekat jendela kafe, menunggu seseorang.
Tak lama kemudian, Nadia datang dengan senyum kecil yang menenangkan.
“Maaf terlambat,” katanya sambil menarik kursi di dekat Raka.
Raka hanya tersenyum. wangi tubuhnya yang samar membuat suasana terasa semakin intim.
Mereka berbicara tentang kenangan lama, sesekali tertawa
ketika mata mereka saling mencari.
Ketika kafe mulai kosong, Nadia mengulurkan tangannya. Raka menyambutnya.
Jari-jari mereka bertaut, sementara suara hujan menjadi iringan yang menenangkan.
Mereka kemudian berjalan keluar bersama. Di bawah satu payung, bahu
mereka sesekali bersentuhan. Nadia menatap Raka cukup lama.
“Aku senang malam ini,” bisiknya.
Raka tersenyum dan mendekat sedikit. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang.
Lalu Nadia tersenyum malu, dan mereka melanjutkan perjalanan dengan tangan masih saling menggenggam |